“Kamu masih sama dia?” Itu pertanyaan pertama aku pas ketemu si miss koncreng, sahabat ku yang setia disaat suka ajah hehe… dia cuma senyum-senyum happy tanpa wajah berdosa…deeeuueueehhh…dasar centil! Harusnya aku udah tau jawaban dia cuma dari ngeliat roman mukanya yang kaya kepiting rebus, kaya anak SMP baru pegangan tangan…oppsss itu di jaman aku euy, anak SMP baru pegangan tangan aja rasanya gimanaaa gituuu hehe…
Heran deh, kok betah pacaran sama SUAMI orang!! Udah jelas engga ada masa depannya…
Tapi kalo flash back ke belakang (lah iya lah ke belakang, kalo kedepan namanya flash forward… heuehue)… si miss koncreng dan aku punya pengalaman dan pandangan yang sama mengenai relationship… aku enga bisa nyalahin dia dengan keputusannya itu. I am also a hypocrite sometimes. Maybe tomorrow, I could have been there, in her position…but (sststtt… honestly, I have) heuheuee…secret…secret…secret…
Dari umur 20 kita udah terobsesi sama type pasangan sempurna versi kita. Which is, good guy with good body, good job, good brain, good family, good education, good personality, good “sex” orientation, euleuh-euleuh…emang masih ada hari gini yang begitu ya?? Do they still exist? Hard to answer… one in thousand kalee yee…
Sekarang disaat kita berdua umur 23, we realize that they DO exist, those dreamed guys…however, with note that: they are mostly MARRIED…HUH!!! Lah iya, lihat aja tuh si koncreng yang mati2an kesengsem ama suami orang HANYA karena that guy is matching her requirements, he fits the profile. Padahal sahabatku ini kurang apa sih?? attractive face, sexy body, good job, smart, open minded, modern…all those guys (I mean those ordinary ones J) have chased her with ZERO results. Si koncreng bilang, there is something wrong with that guy, less smart, less money, less charisma, less mature, less charming…bla bla bla…it’s always like that, years by years, until we’re now 23, it’s still the same story… and akhirnya kita berdua MENYERAH…
Maksudnya menyerah? Yaa…akhirnya menyerah pada market demand and availability product’s law. Dimana ada permintaan, disitu ada penawaran, hehe…yaitu, disaat kita butuh figure yang kita impikan, the ones who are able to fulfill may be the ones with NO single status anymore. Meaning, semuanya jadi absurd karena sebuah obsesi yang tidak terpenuhi…sometimes, we ignored the marital STATUS…hanya demi sebuah obsesi idealism about the guys who deserve us…
Si koncreng lalu curhat panjang lebar tentang masalah hatinya…1 jam kemudian, sang arjuna menjemputnya dengan sumringah, mendaratkan sebuah kecupan ringan… (inget engga ya sama istrinya??) duuuhh…
At the end I realized, it could have been me, but thanks God it wasn’t…
The moral of the story is: don’t follow your obsession too far; it may kill us in the ways we even cannot predict. and jangan merokok di ruangan ber-AC heuehueee….ga nyambung!!!